Sultan Sulaiman

Posted: April 4, 2012 in Uncategorized

 

Sultan Sulaiman al-Mu’tamidullah / Sultan Sulaiman Saidullah  bin Sunan Sulaiman Saidullah/Sunan Nata Alam/Sultan Tahmidillah II  adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 18011825KesultananBanjar terletak di Kalimantan SelatanIndonesia. Adiknya Pangeran Mangku Dilaga dilantik sebagaimangkubumi dengan gelar Ratu Anum Mangku Dilaga. Belakangan Ratu Anum Mangku Dilaga ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta. Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husin dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri.

Sultan Adam

Posted: April 4, 2012 in Uncategorized

 

Sultan Adam Al-Watsiq Billah  bin Sultan SulaimanSaidullah II adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 18251 November 1857. Sultan Adam dilahirkan di desa KarangAnyarKarangIntan,KabupatenBanjarKalimantan SelatanIndonesia.

Sultan Adam putra tertua dari Sultan SulaimanRahmatullah yang berjumlah 23 orang. Sultan Adam memiliki saudara kandung sebanyak 5 orang dan saudara seayah 17 orang.

 

Sultan Tahmidillah

Posted: April 4, 2012 in Uncategorized

 

Sultan Tahmidillah II (Sunan Nata Alam atau Maulana As Sulthan Tahmidillah bni As Sulthan Tamjidillah atau Tahhmid Illah II atau Panembahan Batoe) adalah Sultan Banjar tahun 1761-1801. Sunan Nata Alam atau Susuhunan Nata Alam adalah gelar yang digunakannya sejak tahun 1772. Sedangkan gelar tahmidillah merupakan paduan dari kata Tahmid dan Allah, secara harafiah Tahmid berarti keadaan menyampaikan pujian atau rasa syukur berkali-kali (kepada Allah). Sultan Tahmidillah II putera dari Sultan Tamjidullah I. Sultan Tahmidillah II menikah dengan Putri Lawiyah, puteri dari Sultan Muhammad. Pangeran naik tahta menggantikan Sultan Muhammad yang meninggal karena sakit paru-paru yang dideritanya sejal awal pemerintahnnya (1759). Atas perintah Dewan Mahkota tahun 1762 saudara Sultan Nata yang bernama Prabujaya dilantik menjadi mangkubumi

 

Sultan Badarul Alam

Posted: April 4, 2012 in Uncategorized

 

Pengganti Sultan Tahmidilllah I adalah Sultan Kuning atau Sultan Badarul Alam bin Sultan Tahlilullah, namun dalam tahun itu (1734 Masehi) Sultan Kuning mangkat sedangkan anaknya, Muhammad Aliuddin Aminullah masih belum dewasa. Maka, Pangeran Tamjid atau Pangeran Tamjidillah yang memangku jabatan mangkubumi dengan gelar Sultan Muda untuk memegang pemerintahan.

 

Sultan Tamjidillah

Posted: April 4, 2012 in Uncategorized

MARTAPURA

 

Sultan Tamjidillah I bin SultanTahlilullah adalah Sultan Banjar antara tahun 17341759 (mangkat 1767)atau Panembahan Tingi.

Pangeran Tamjidillah I semula menjabat mangkubumi kemudian setelah wafatnya Sultan Hamidullah atau Sultan Kuning ia bertindak sebagai wali  Putra Mahkota yaitu Muhammad AliuddinAminullah yang belum dewasa. Tetapi kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar Sultan Sepuh. Sultan Sepuh dibantu adiknya Pangeran Nullah (Panembahan Hirang) sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan).

 

SULTAN TAHLILULLAH

Posted: April 4, 2012 in Uncategorized

MARTAPURA

Sultan Tahlilullah berputra enam orang yaitu Pangeran Tamjidullah, Pangeran Nullah, Pangeran Dipati, Pangeran Istana Dipati, Pangeran Wira Kasuma dan Pangeran Mas. Pangeran Mas kelak menjadi mangkubumi dengan gelar Ratu Anom Kasuma Yuda (mangkubumi Sultan Tahmidullah II).

Kyai Martaraga dilantik menjadi penghulu (ulama keraton) tahun 1752. Sepupu Sultan Sepuh yang bernama Pangeran Suryanata menjadi ketua Dewan Mahkota. Ia tinggal di Martapura dan meninggal tahun 1750. Putera almarhum yang bernama Pangeran Prabukasuma menggantikan sebagai ketua Dewan Mahkota. Beberapa anggota Dewan Mahkota tinggal di luar Kayu Tangi yaitu Pangeran Marta dan Pangeran Ulahnegara yang tinggal di Margasari dan Pangeran Wiranata tinggal di Tapin

 

BAB 5

MANUSIA, NILAI, MORAL, DAN HUKUM

  1. A.     Hakikat Nilai Moral dalam Kehidupan Manusia
  1. Pengertian Nilai, Etika, Moral, dan Hukum

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna.

Etika (ethos) berasal dari bahasa Yunani yang artinya adat kebiasaan. Etika digunakan untuk menyebut ilmu dan prinsip dasar penilaian baik-buruknya perilaku manusia atau berisi tentang kajian ilmiah terhadap ajaran moral.

Norma merupakan kaidah atau aturan-aturan yang berisi petunjuk tentang perilaku yang harus atau tidak boleh dilakukan oleh manusia dan bersifat mengikat.

Norma dalam kehidupan :

Ë Norma Agama

  • Berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
  • Tujuan : terciptanya masyarakat yang agamis, tertib, tentram, rukun, damai, dan sejahtera, sahingga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat dapat terwujud.

Ë Norma Masyarakat / Sosial

  • Bersumber dari masyarakat sendiri.
  • Pelanggaran atas norma sosial akan berakibat pengucilan dari pergaulan masyarakat.

Ë Norma Kesusilaan

  • Berasal dari diri setiap manusia.
  • Pelanggaran atas norma ini akan menimbulkan rasa penyesalan.

Ë Norma Hukum

  • Berasal dari Negara.
  • Pelanggaran atas norma ini akan dikenai hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku.

 

  1. Ciri-Ciri Nilai

Menurut Bambang Daroeso (1986), ciri-ciri nilai adalah sebagai berikut :

  1. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Misalnya kejujuran.
  2. Nilai yang memiliki sifat normative. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya nilai keadilan.
  3. Nilai berfungsi sebagai motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Misalnya nilai ketakwaan.

 

  1. Macam-Macam Nilai

Dalam filsafat, nilai dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Nilai logika, adalah nilai benar salah
  2. Nilai estetika, adalah nilai indah dan tidak indah
  3. Nilai etika / moral, adalah nilai baik buruk

Notonegoro (dalam Kaelan, 2000) menyebutkan adanya tiga macam nilai, yaitu :

  1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia.
  2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan kegiatannya,
  3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

 

  1. Proses Terbentuknya Nilai, Etika, Moral, Norma, dan Hukum dalam Masyarakat dan Negara

Prose terbentunya nilai, etika, moral, norma, dan hukum berjalan melalui suatu kebiasaan untuk berbuat baik, suatu disposisi batin untuk berbuat baik yang tertanam karena dilatihkan, suatu kesiapsediaan untuk bertindak secara baik, dan kualitas jiwa yang baik dalam membantu kita untuk hidup secara benar.

  1. 5.      Dialektika Hukum dan Moral dalam Masyarakat dan Negara

 

Hukum disebut adil bila secara moral memang adil. Hukum tidak bisa menilai dirinya sendiri apakah hukum itu adil atau tidak, namun hukum sendiri harus menilai bahwa semestinya sifat dari hukum itu adalah adil.

 

  1. Perwujudan Nilai, Etika, Moral, dan Norma dalam Kehidupan Masyarakat dan Negara

 

Perwujudan nilai-nilai, etika, moral, dan norma dalam keyakinan iman bisa saja diterapkan sebagai hukum jika norma moral yang terkandung didalamnya bersifat universal. Akan tetapi jika nilai-nilai tersebut sifatnya lokal, maka tidak bisa diterapkan menjadi sebuah hukum yang berlaku untuk seluruh masyarakat.

 

  1. Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder

Kualitas primer yaitu kualitas dasar yang tanpa objek tidak bisa menjadi ada. Sedangkan kualitas sekunder merupakan kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindera seperti warna, rasa, bau, dan sebagainya.

  1. 8.      Tuntutan dan Sanksi Moral, Norma, Hukum dalam Masyarakat Bernegara

 

Tidak ada kewajiban dan aturan berarti tidak ada tindakan kebaikan. Oleh karena itu, pada umumnya apabila seseorang telah melakukan kesalahan didalam masyarakat, tuntutan dan sanksi yang akan diterimanya adalah dikucilkan, merasa dipermalukan, dicap orang sebagai orang yang tidak tahu aturan, dan lain sebagainya.

 

  1. Keadilan, Ketertiban, dan Kesejahteraan Masyarakat sebagai Wujud Masyarakat Bermoral dan Menaati Hukum

Kualitas manusia tidak ditentukan oleh keahlian atau kemampuan yang ia miliki melainkan oleh kualitas watak pribadinya. Dengan moralitas yang tinggi, akan terwujud keadilan, ketertiban, dan kesejahteraan dalam masyarakat.

  1. 10.  Nilai Moral sebagai Sumber Budaya dan Kebudayaan

Ciri utama suatu masyarakat adalah suatu kebudayaan sebagai hasil berbagai karya, rasa, dan cipta manusia selaku makhluk berakal. Moral diperlukan untuk memahami kehidupan yang baik, khususnya dalam hubungan horizontal antarsesama.

v  Nilai moral sebagai sumber budaya

Ada dua jenis sumber moral, yaitu dari Tuhan Yang Maha Esa dan dari manusia. Seseorang bisa dikatakan tidak bermoral apabila ia melanggar budaya atau tradisi yang berlaku ditempatnya. Cukup pantas jika kita mengatakan bahwa budaya sebagai moral dan moral sebagai budaya.

 

v  Nilai moral sebagai rujukan nilai budaya

 

v  Nilai moral sebagai nilai luhur budaya bangsa

Moral bersifat kodrati. Apabila kita terus-menerus berbuat baik sehingga terbiasa dan membudaya akan menyebabkan kita disebut orang yang beradab. Perbuatan selalu menjadi acuan dalam hidup bermasyarakat.

 

v  Nilai moral sebagai hasil penilaian

Adanya perbedaan dalam perwujudan budaya disebabkan lingkungan yang berbeda menurut keadaan, waktu, dan tempat. Apabila kebudayaan dihubungkan dengan peradaban, akan muncul pernyataan walaupun peradaban rendah belum tentu kebudayaannya rendah.

 

v  Nilai moral sebagai nilai objektif dan nilai subjektif bangsa

 

v  Nilai moral sebagai kebudayaan dan peradaban sebagai nilai masyarakat

 

Hasil karya manusia memiliki nilai estetika, sedangkan adat tata kelakuan dan system sosial memiliki nilai etika. Manusia selalu menghendaki nilai yang baik daripada nilai yang buruk. Sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.

 

  1. B.     Problematika Pembinaan Nilai Moral
    1. 1.      Pengaruh Kehidupan Keluarga dalam Pembinaan Nilai Moral

Keluarga berperan sangat penting bagi pembinaan nilai moral anak. Hal ini karena dalam keluargalah, pendidikan pertama dan utama anak sebelum memasuki dunia pendidikan dan masyarakat. Kehidupan keluarga akan memengaruhi perkembangan jiwa dan moral anak.

  1. 2.      Pengaruh Teman Sebaya terhadap Pembinaan Nilai Moral

Pergaulan dengan teman sebaya sangat memengaruhi sikap dan perilaku seorang anak. Berteman dengan teman yang tidak baik akan mengakibatkan anak meniru hal-hal negatif. Sedangkan jika berteman dengan teman yang baik maka anak juga akan terpengaruh menjadi baik seperti temannya.

  1. 3.      Pengaruh Figur Otoritas terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu

Figur otoritas seperti presiden, wakil presiden, para menteri, pejabat, anggota DPR dan MPR, para artis, dan lain-lain harus memberi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-harinya karena pengaruh figur otoritas terhadap perkembangan nilai moral individu sangat besar.

  1. 4.      Pengaruh Media Telekomunukasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral

Penyalahgunaan sarana telekomunikasi yang seharusnya digunakan sesuai fungsinya cukup mempengaruhi sikap dan perilaku generasi muda. Misalnya dalam kasus penyalahgunaan internet untuk mendownload film porno. Tidak ada filter atau benteng yang kokoh untuk melawannya, kecuali iman dan takwa.

  1. 5.      Pengaruh Media Elektronik dan Internet terhadap Pembinaan Nilai Moral

Media elektronik dan internet yang seharusnya digunakan sebagaimana mestinya telah cukup banyak disalahgunakan sehingga mengakibatkan nilai moral merosot.

  1. C.     Manusia dan Hukum

Manusia tidak pernak terlepas dari hukum. Manusia yang sadar hukum akan selalu bersikap dan bertindak sesuai hukum yang berlaku, seperti memiliki SIM, dan memakai helm standar bagi pengendara sepeda motor.