MAKALAH ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR ‘’MANUSIA , NILAI, MORAL DAN HUKUM’’

Posted: April 12, 2012 in Uncategorized

MAKALAH

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

‘’MANUSIA , NILAI, MORAL DAN HUKUM’’

 

 

 

Kelompok 4 :

Astia Putriana               C1C111002

Suci Khairunnisa         C1C111006

Nisma Ahyani               C1C111012

Hariyadi Irhas               C1C111080

Maisyarah                     C1C111122

Irwan A. W.                  C1C111222

Wahyu Setiawan          C1C111242

 

     S- 1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

     BANJARMASIN

      2012

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.       NILAI

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas dan berguna bagi manusia.

Ciri – ciri Nilai :

Menurut Bambang Daroeso ( 1986 ), yaitu :

  1. Nilai itu suatu realitas abstrak dalam kehidupan manusia.
  2. Nilai memiliki sifat normative, artinya ilai mengandung harapan, cita – cita, dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal ( das sollen ).
  3. Nilai berfungsi sebagai daya dorong atau motivator dan manusia adalah pendukung nilai, manusia bertindak  berdasar dan di dorong oleh nilai yang diyakininya.

 

Sesuatu dianggap bernilai apabila sesuatu itu memiliki sifat :
a. Menyenangkan (pleasent)
b. Berguna (useful)
c. Memuaskan (satisfying)
d. Menguntungkan (profitable)
e. Menarik (interesting)
f. Keyakinan (belief) 

Aliran tentang nilai :

  1. Aliran objektivisme/idealisme artinya nilai itu objektif , ada pada setiap sesuatu. Tidak ada yang diciptakan di dunia tanpa ada suatu nilai yang melekat di dalamnya.Segala sesuatu ada nilainya dan bernilai bagi manusia, hanya saja manusia belum tahu nilai apa dari objek tersebut.
  2. Aliran subjektivisme artinya nilai suatu objek terletak pada subjek yang menilainya. Misalnya air menjadi sangat bernilai darpada emas bagi orang kehausan di tengah padang pasir . Jadi nilai itu subjektif 

 

Prof. Notonegoro mengklasifikasikan 3 nilai :

  1. Nilai materiil : yaitu sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
  2. Nilai vital : yaitu sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melaksanakan kegiatan 
  3. Nilai kerohanian
    a. nilai kebenaran bersumber pada akal pikiran (rasio, budi, dan cipta) manusia.
    b.nilaiestetika (keindahan) bersumber pada unsur perasaan manusia.
    c. nilai kebaikan atau nilai moral bersumber pada kehendak keras, karsa hati dan nurani manusia.
  4. Nilai religius (ketuhanan) : yang bersifat mutlak dan bersumber pada keyakinan manusia

Dalam filsafat nilai dibedakan 3 jenis :

  1. Nilai logika yaitu nilai tentang benar-salah
  2. Nilai etika yaitu nilai tentang baik-buruk.
  3. Nilai estetika yaitu nilai tentang indah jelek

    1. A.       MORAL

Moral berarti Akhlak (bhs. Arab) atau Kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup.

Dalam bhs Yunani “ETHOS” yang menjadi “etika” adalah ajaran tentang baik-buruk yang diterima masyarakat umum tentang sikap, perbuatan, kewajiban dsb.

Moral = etika, etik, akhlak, kesusilaan dan budi pekerti.

Ada beberapa unsur dari kaidah moral yaitu :

  1. 1.      Hati Nurani Merupakan fenomena moral yang sangat hakiki.

Hati nurani merupakan penghayatan tentang baik atau buruk mengenai perilaku manusia dan hati nurani ini selalu dihubunngkan dengan kesadaran manusia dan selalu terkait dalam dengan situasi kongkret. Dengan hati nurani manusia akan sanggup merefleksikandirinya terutama dalam mengenai dirinya sendiri atau juga mengenal orang.

 

  1. 2.      Kebebasan dan tanggung jawab.

Kebebasan adalah milik individu yang sangat hakiki dan manusiawi dan karena manusia pada dasar nya adal;ah makhluk bebas. Tetapi didalam kebebasan itu juga terbatas karena tidak boleh bersinggungan dengan kebebasan orang lain ketika mereka melakukan interaksi. Jadi, manusia itu adalah makhluk bebas yang dibatasi oleh lingkungannya sebagai akibat tidak mampunya ia untuk hidup sendiri.

 

  1. 3.      Nilai dan Norma Moral

             Nilai dan moral akan muncul ketika berada pada orang lain dan ia akanbergabung dengan nilai lain seperti agama, hukum, dan budaya. Nilai moral terkait dalam tanggung jawab seseorang.

Nilai Moral di Antara Pandangan Objektif dan Subjektif Manusia

Nilai erat hubungannya dengan manusia, dalam hal etika maupun estetika. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks, pertama akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif, apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya. Kedua, memandang nilai sebagai sesuatu yang subjektif, artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya.

Dua kategori nilai itu subjektif atau objektif: 

Pertama, apakah objek itu memiliki nilai karena kita mendambakannya, atau kita mendambakannya karena objek itu memiliki nilai

Kedua, apakah hasrat, kenikmatan, perhatian yang memberikan nilai pada objek, atau kita mengalami preferensi karena kenyataan bahwa objek tersebut memiliki nilai mendahului dan asing bagi reaksi psikologis badan organis kita (Frondizi, 2001, hlm. 19-24).

 

  1. B.        HUKUM

Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurusi tata tertib suatu masyarakat dan harus ditaati oleh masyarakat tersebut. Hukum pada dasarnya adalah bagian dari norma yaitu norma hukum.

Perbedaan norma hukum dengan norma lainnya :

  1. Norma hukum datangnya dari luar diri kita sendiri, yaitu dari kekuasaan/lembaga yang resmi dan berwenang.
  2. Norma hukum dilekati sanksi pidana atau pemaksa secara fisik, norma lain tidak dilekati sanksi pidana secara fisik.
  3. Sanksi pidana atau sanksi pemaksa itu dilaksanakan oleh aparat negara.

Norma hukum diperlukan karena :

  1. Karena bentuk sanksi dari ketiga norma belum cukup memuaskan dan efektif untuk melindungi keteraturan dan ketertiban masyarakat.
  2. Masih ada perilaku lain yang perlu diatur di luar ketiga norma di atas (misal perilau di jalan raya) 

Fungsi hukum yaitu :

  1. Sebagai alat pengukur tertib hubungan masyarakat.
  2. Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial.
  3. Sebagai penggerak pembangunan.
  4. Fungsi kritis hukum.

PERBEDAAN ANTARA HUKUM DAN MORAL

Menurut K.Berten :

1.      Hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas, artinya dibukukan secara sistematis dalam kitab perundang-undangan. Oleh karena itu norma hukum lebih memiliki kepastian dan objektif dibanding dengan norma moral. Sedangkan norma moral lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak ‘diganggu’ oleh diskusi yang yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap utis dan tidak etis.

 

2.      Meski moral dan hukum mengatur tingkah laku manusia, namun hukum membatasi diri sebatas lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang.

 

3.      Sanksi yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Hukum untuk sebagian besar dapat dipaksakan,pelanggar akan terkena hukuman. Tapi norma etis tidak bisa dipaksakan, sebab paksaan hanya menyentuh bagian luar, sedangkan perbuatan etis justru berasal dari dalam. Satu-satunya sanksi dibidang moralitas hanya hati yang tidak tenang.

 

4.      Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Meskipun hukum tidak langsung berasal dari negara seperti hukum adat, namun hukum itu harus di akui oleh negara supaya berlaku sebagai hukum.moralitas berdasarkan atas norma-norma moral yang melebihi pada individu dan masyarakat. Dengan cara demokratis atau dengan cara lain masyarakat dapat mengubah hukum, tapi masyarakat tidak dapat mengubah atau membatalkan suatu norma moral. Moral menilai hukum dan tidak sebaliknya.

Sedangkan Gunawan Setiardja membedakan hukum dan moral :

1.      Dilihat dari dasarnya, hukum memiliki dasar yuridis, konsesus dan hukum alam sedangkan moral berdasarkan hukum alam.

2.      Dilihat dari otonominya hukum bersifat heteronom (datang dari luar diri manusia), sedangkan moral bersifat otonom (datang dari diri sendiri).

3.      Dilihat dari pelaksanaanya hukum secara lahiriah dapat dipaksakan,

4.      Dilihat dari sanksinya hukum bersifat yuridis. moral berbentuk sanksi kodrati, batiniah, menyesal, malu terhadap diri sendiri.

5.      Dilihat dari tujuannya, hukum mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bernegara, sedangkan moral mengatur kehidupan manusia sebagai manusia.

6.      Dilihat dari waktu dan tempat, hukum tergantung pada waktu dan tempat, sedangkan moral secara objektif tidak tergantung pada tempat dan waktu (1990,119).

 

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN HUKUM

Hukum dalam masyarakat merupakan tuntutan, mengingat bahwa kita tidak mungkin menggambarkan hidup manusia tanpa atau di luar masyarakat. Maka manusia, masyarakat, dan hukum merupakan pengertian yang tidak bisa dipisahkan. Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat, diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan antar-manusia dalam masyarakat. Kepastian ini bukan saja agar kehidupan masyarakat menjadi teratur akan tetapi akan mempertegas lembaga-lembaga hukum mana yang melaksanakannya.

Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: “Ubi societas ibi jus” (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai “semen perekat” tersebut adalah hukum.

Untuk mewujudkan keteraturan, maka mula-mula manusia membentuk suatu struktur tatanan (organisasi) di antara dirinya yang dikenal dengan istilah tatanan sosial (social order) yang bernama: masyarakat. Guna membangun dan mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur ini, maka manusia membutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari dua hal: aturan (hukum) dan si pengatur(kekuasaan).

 

NILAI DI ANTARA KUALITAS PRIMER DAN KUALITAS SEKUNDER

  • Kualitas primer yaitu kualitas dasar yang tanpanya objek tidak dapat menjadi ada, sama seperi kebutuhan primer yang harus ada sebagai syarat hidup manusia.
  • Kualitas sekunder merupakan kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindera seperti warna, rasa, bau, dan sebagainya, jadi kualitas sekunder seperti halnya kualitas sampingan yang memberikan nilai lebih terhadap sesuatu yang dijadikan objek penilaian kualitasnya.

Perbedaan antara kedua kualitas ini adalah pada keniscayaannya, kualitas primer harus ada dan tidak bisa ditawar lagi, sedangkan kualitas sekunder bagian eksistesi objek tetapi kehadirannya tergantung subjek penilai. Nilai bukan kualitas primer maupun sekunder sebab nilai tidak menambah atau memberi eksistensi objek. Nilai bukan sebuah keniscayaan bagi esensi objek. Nilai bukan benda atau unsur benda, melainkan sifat, kualitas, yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan “baik”. Nilai milik semua objek, nilai tidaklah independen yakni tidak memiliki kesubstantifan.

 Problematika Pembinaan Nilai Moral

Beberapa pengaruh nilai dalam kehidupan sehari-hari :

1.      Pengaruh Kehidupan Keluarga dalam Pembinaan Nilai Moral

Keluarga berperan sangat penting bagi pembinaan nilai moral anak, hal ini karena dalam keluargalah, pendidikan pertama dan utama anak sebelum memasuki dunia pendidikan dan masyarakat. Kehidupan keluarga akan mempengarahi perkembangan jiwa dan nilai moral anak kedepannya, apabila dalam keluarga itu baik, maka anak itu juga akan baik, begitu juga sebaliknya.

2.      Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral

Pengaruh pergaulan dengan teman sebaya sangat mempengaruhi sikap dan perilaku generasi muda kitadalam hal moralnya. Apabila kita bergaulan dengan teman yang baik, maka kita juga terbawa kearah yang baik, begitu juga sebaliknya.

3.      Pengaruh Figur Otoritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu

Pengaruh figure otoritas terhadap perkembangan nilai moral individu sangat besar pengaruhnya. Maka dari itu sosok seorang figur otoritas harus member contoh yang baik agar pemuda atau generasi yang ada dibawahnya bisa ikut meniru apa yang dilakukannya dan akhirnya akan membawa seseorang pemuda tersebut kearah yang baik juga.

4.      Pengaruh Media Komunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral

Pengaruh media telekomunikasi akhir – akhir ini memang cukup memprihatinkan di kalangan generasi muda. Penyalahgunaan sarana telekomunikasi yag seharusnya digunakan sesuai fungsinya ini cukup mempengaruhi sikap dan perilaku generasi muda kita.

5.      Pengaruh media elektronik dan internet terhadap pembinaan nilai moral

Seiring majunya teknologi, maka seluas itu juga semua informasi bisa diketahui dan bisa diakses langsung dengan yang namanya internet. Penyalahgunaan pemakaian elektronik maupun internet sangat mudah dijumpai apalagi dikalangan pemuda dan para remaja sekarang. Penyalahgunaan inilah yang nantinya juga bisa berakibat terhadap pembentukan nilai moral anak tersebut.

 

Proses Terbentuknya Nilai, Etika, Moral, Norma, dan Hukum dalam Masyarakat dan Negara

Proses terbentuknya nilai, etika, moral, norma, dan hukum merupakan proses yang berjalan melalui suatu kebiasaan untuk berbuat baik, suatu disposisi batin untuk berbuat baik yang tertanam karena dilatihkan, suatu kesiapsediaan untuk bertindak secara baik, dan kualitas jiwa yang baik dalam membantu kita untuk hidup secara benar.

Seorang akan dinilai baik atau buruk sebagai manusia dilihat dari moralitas yang dimilikinya, karena moralitas memiliki otoritas tertinggi dalam penilaian manusia sebagai manusia. Salah satu mekanisme yang dapat membentuk jati diri yang berkualita adalah keutamaan moral yang mencakup nilai, norma, dan etika.

Dialektika Hukum dan Moral dalam Masyarakat dan Negara

           Hukum dapat dikatakan adil atau tidak tergantung dari wilayah penilaian moral. Hukum disebut adil bila secara moral memang adil. Norma moral dan norma hukum sebenarnya tidak terpisahkan karena ukuran keadilan suatu hukum bukan hanya ditentukan oleh norma moral, dan bukan pula oleh norma hukum sendiri. Hukum tidak bisa menilai dirinya sendiri apakah hukum itu adil atau tidak, namun hukum sendiri harus menilai bahwa semestinya sifat dari hukum itu adalah adil.

Perwujudan Nilai, Etika, Moral, dan Norma dalam Kehidupan Masyarakat dan Negara

            Perwujudan nilai – nilai, etika , moral, dalam keyakinan iman bisa saja diterapkan sebagai hukum jika norma moral yang terkandung di dalamnya bersifat universal. Artinya, dalam keyakinan iman yang lain pun tercermin norma moral yang kurang lebih sama. Misalnya norma moral yang terkandung dalam agama untuk menghormati agama lain dengan cara member toleransi itu sifatnya universal. Oleh karena itu, norma tersebut bisa saja terapkan ke dalam hukum

Keadilan, Ketertiban, dan Kesejahteraan Masyarakat sebagai Wujud Masyarakat Bermoral dan Menaati Hukum

 Aristoteles memberikan contoh keutamaan moral, yaitu :

  1. Keberanian, yaitu orang dihindarkan dari sifat nekat dan pengecut
  2. Ugahari ( prinsip secukupnya, kesederhanaan, empan papan ), yaitu orang dihindarkan dari kelaparan dan kekenyangan.
  3. Keadilan

 

Nilai Moral sebagai Sumber Budaya dan Kebudayaan

  1. Nilai moral sebagai sumber budaya

Ada dua jenis sumber etika atau moral, yaitu dari Tuhan Yang Maha Esa ( etika atau moral kodrat ) dan dari manusia ( etika atau moral budaya ) kebudayaan paling sedikit memiliki tiga wujud, yaitu :

  1. Keseluruhan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya yang berfungsi mengatur, mengendalikan, dan member arah pada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat yang disebut adat tata kelakuan ( nilai- nilai insane atau moral ).
  2. Keseluruhan aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat yang disebut sistem sosial.
  3. Benda hasil karya manusia, benda – benda hasil karya manusia disebut kebudayaan fisik.
  4. Nilai moral sebagai Rujukan Nilai Budaya

              Etika adalah nilai – nilai berupa norma – norma moral yang menjadi pedoman hidup bagi seseorang atau kelompok orag dalam berperilaku atau berbuat. Etika dalam arti ini desebut sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya merupakan gambaran perilaku baik, benar, dan bermanfaat yang terdapat dalam pikiran.

  1. Nilai moral sebagai nilai – nilai luhur budaya bangsa

              Nilai moral adalah nilai atau hasil perbuatan yang baik, sedangkan norma moral adalah norma yang berisi cara bagaimana berbuat baik. Moral bersifat kodrati, sejak diciptakan manusia sudah dibekali dengan sifat – sifat yang baik, jujur, dan adil.

  1. Nilai Moral sebagai Hasil Penilaian

Kebudayaan dalam kaitannya dengan ilmu sosial budaya dasar adalah penciptaan, penertiban, dan pengelolaan nilai – nilai insane, tercakup dalam usaha memanusiakan diri dalam alam lingkungan, baik fisik maupun sosial.

  1. Nilai moral sebagai nilai objektif dan nilai subjektif bangsa

Sistem nilai mengandung tiga unsure, yaitu :

  1. Norma moral sebagai acuan perilaku,
  2.  keberlakuan norma moral hasilnya perbuatan baik.
  3. Nilai – nilai sebagia produk perbuatan berdasarkan norma moral.
  4. Nilai moral sebagai kebudayaan dan peradaban sebagai nilai masyarakat

            Sistem nilai budaya tersebut adalah pengalaman hidup yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama sehingga menjadi kebiasaan yang berpola. Sistem yang sudah berpola merupakan gambaran sikap, pikiran, dan tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatan. Sistem nilai ini adalah produk budaya hasil pengalaman hidup yang berlangsung terus – menerus, terbiasa yang akhirnya disepakati bersama sebagai pedoman hidup mereka, dan sebagai identitas kelompok masyarakat.

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s